[Oneshoot] 4 O’Clock


4 O'clock Kim Taehyung

Cast: Kim Taehyung / V BTS

All is Kim Taehyung POV

 

Aku kembali terbangun pada jam yang sama setiap harinya. Jam 4 pagi. Bahkan matahari pun belum terbangun dan memancarkan sinarnya. Cahaya bulan selalu menerangi kamar ku yang gelap setiap kali aku terbangun.

Aku beranjak dari ranjang dan berjalan menuju meja belajar untuk mengambil sebuah lilin dan korek api. Aku pun berjalan menuju balkon kamarku dan menyalahkan lilin di sana. Aku tak merasakan dinginnya udara musim gugur meskipun hanya menggunakan pakaian piyama dan di temani sebuah lilin yang tak terlalu hangat. Karena hatiku sudah terlebih dahulu merasakan dinginnya kehidupan.

 

Setiap kali aku menatap kearah bulan, aku selalu teringat akan seseorang. Sosok yang sangat cantik dan baik hati. Perempuan yang selalu menemaniku di saat aku senang maupun sedih, seseorang yang berjanji untuk selalu bersamaku hingga tua nanti. Namun semua itu terbang begitu saja, bersama dengan angin musim gugur.

 

Lee HyunAe. Sosok perempuan yang meninggalkanku setahun yang lalu karena sebuah kecelakaan. Ia dibunuh oleh seorang yang mabuk di tengah jalan karena menyelamatkan seorang anak kecil yang sedang dipukuli. Apabila waktu itu aku tak ditahan oleh Jimin, mungkin laki-laki yang mabuk itu sudah aku bunuh.

 

Hari ini tepat satu tahun kepergiannya. Aku masih belum bisa melupakan dirinya sama sekali. Suara lembutnya, sentuhan hangatnya, tingkah lakunya yang begitu sopan dan ramah, serta sosok yang sangat menyukai anak kecil.

 

Setiap kali aku terbangun pada pukul 4 pagi, aku selalu duduk di balkon dan menyalahkan lilin. Dulu, kami sering duduk dibalkon pada malam menjelang pagi untuk menikmati indahnya bulan sambil mengobrol. Terkadang, hanya memandang bulan sambil bersandar pada diri masing-masing sudah membuat kami nyaman dan tanpa sadar tertidur di balkon hingga suara kicauan burung di pagi hari membangunkan kami.

 

Pada saat aku sedang memandangi bulan purnama yang begitu indah, tiba-tiba saja awan gelap pun menyelimutinya. Angin berhembus kuat dari arah timur ke barat dan membuat api pada lilin padam. Pada saat aku hendak menyalahkan lilin kembali, aku terhenti pada saat melihat sosok yang tak seharusnya ku lihat. Dia yang seharusnya tidak akan pernah kembali dan muncul dihadapanku.

 

“Taehyung-ah.”

 

Aku mengucek kedua mataku dengan kedua tanganku setelah mendengar suara ia memanggilku. Aku memperhatikannya dari posisiku dan tak bisa melontarkan satu patah katapun.

 

“Taehyung-ah, bogoshippo…”

 

“HyunAe-ya…”

 

Aku mulai menitikkan air mataku perlahan. “HyunAe-ya…” aku terus memanggil namanya sambil berusaha menyentuhnya namun aku tak dapat menyentuhnya sama sekali.

 

“Mianhaeyo, Taehyun-ah.”

“HyunAe-ya..”

“Kalau saja aku tak menyelamatkan anak itu, mungkin saat ini kita masih bisa menikmati bulan di malam hari.”

 

Pandanganku mulai kabur. Tertutupi oleh air mata yang kemudian mengalir membasahi pipi. Dadaku terasa sakit. Seperti tertusuk pisau yang tak dapat di cabut oleh siapapun. Saat aku membuka mataku, aku merasakan hangatnya pelukan nya. Aku terkejut dan berusaha memeluknya. Namun aku tak dapat membalas pelukannya sama sekali.

 

“Taehyung-ah. Hiduplah dengan baik. Teruslah hidup untukku, Taehyung-ah.”

“Bogoshippo, HyunAe-ya…”

“Nado Taehyung-ah…”

 

Ia melepaskan pelukannya dan menatap kearah mataku. Kami pun saling menatap satu sama lain. Aku dapat merasakan kesedihan serta rasa penyesalan pada tatapannya terhadapku.

 

“Aku akan hidup dengan baik, HyunAe-ya. Tenang saja.”

 

Aku berusaha tersenyum. Namun senyumanku hanya membawa luka yang sudah tertimbun kembali muncul.

 

“Aku akan selalu menjagamu dari sisi lain, Taehyung-ah. Janganlah bersedih lagi. Terlebih karena aku.”

 

Perkataannya menambah luka pada hatiku. Bagaimana bisa aku melupakan dirinya? Andai saja aku tidak bertemu dengan dirinya, mungkin saja aku melewati masa sekolahku dengan baik. Aku bukanlah seorang yang aktif pada jaman sekolah. Karena HyunAe, aku memiliki teman yang mau menemaniku serta mendengarkan ku.

 

“Kau jahat, HyunAe-ya..”

“Cheosomianhamnida, Taehyung-ah…”

“HyunAe-ya…Saranghaeyo…”

 

Aku berteriak di antara kesunyian malam. Aku tidak peduli apabila para tetangga mengira aku gila atau apapun itu. Karena aku tidak akan bisa mengatakan hal tersebut lagi kepadanya.

 

Ia masih dalam posisi berlutut setelah memelukku sebelumnya. Ia mendekatkan wajahnya kearah ku hingga hanya tersisa satu jengkal saja. Ia tersenyum kepadaku yang sejak tadi masih mengeluarkan air mata. Angin sepoi-sepoi tiba-tiba saja berhembus dan menghapus air mataku perlahan.

 

“Nado saranghae, Taehyung-ah..”

 

Ia kembali mendekatkan wajahnya padaku. Sepertinya ia ingin menciumku. Aku menutup kedua mataku. Meskipun aku tidak bisa menyentuh dirinya pada saat aku ingin memeluknya, mungkin saja aku masih bisa mencium dirinya untuk yang terakhir kalinya.

 

“Aku akan pulang. Terima kasih untuk segalanya, Taehyung-ah. Sarang….”

 

Ucapan tersebut terlontar dari dirinya sebelum hilang bersama dengan cahaya bulan yang kembali memancarkan sinarnya. Awan hitam tidak lagi terlihat pada langit. Aku membuka kedua mataku pada saat ia hendak mengatakan ‘saranghae’. Aku melihat dirinya lenyap diantara sinar bulan.

 

“HYUNAE-YAAAA”

 

Wajahku yang kian basah menyentuh lantai secara tanpa sadar. Tangan kananku berusaha mengangkat wajahku dari lantai, namun rasa lemas menyerangku. Aku tidak dapat bangkit sehingga membuat ku berbaring. Aku terus terisak dan tidak dapat berhenti untuk meneriakkan namanya yang membuat hatiku terasa sakit.

 

Dari posisiku, aku berusaha untuk memandang bulan yang membawa HyunAe pergi begitu saja. Andai saja awan gelap itu masih menutupi sinar bulan, mungkin HyunAe masih akan berada disini dan aku dapat mengobati rasa rinduku padanya.

 

Aku terus menangis hingga matahari mulai bangun dari tidurnya. Sedangkan aku, menggantikan posisi matahari untuk tidur dan berharap terbangun dengan HyunAe berada di sampingku. Berharap semua hal yang telah terjadi selama satu tahun ini hanyalah sebuah mimpi buruk.

 

Suara kicauan burung yang begitu kencang membuat ku terbangun. Aku hanya tidur 3 jam dan membuat kepala ku sakit. Aku tertidur di balkon. Aku dapat merasakan mataku yang begitu berat karena kurang tidur dan menangis di pagi hari.

 

Aku perlahan duduk dengan kedua tangan menopang tubuhku yang terasa lemah. Pada saat aku duduk, sebuah kupu-kupu berwarna biru terbang dihadapan ku. Ia terus terbang di depan mataku seolah-olah meminta perhatian dariku. Aku pun hanya bisa tersenyum simpul melihat kupu-kupu biru yang indah itu.

 

“Annyeong.”

“Terima kasih telah menjadi yang pertama untuk menyapaku di pagi ini, HyunAe-ya.”

 

Aku mengatakan hal tersebut kepada kupu-kupu biru tersebut sebelum kemudian kupu-kupu itu terbang menuju langit biru. Aku hanya bisa tersenyum memandangi kupu-kupu biru itu hilang di antara langit yang tak berawan.

 

Sejak malam itu, aku tidak dapat bangun pada pukul 4 pagi lagi. Aku selalu terbangun tepat pada saat alarm berbunyi. Meskipun aku tidak dapat menghentikan waktu, tapi aku tidak akan pernah melupakan memori aku dan dia bersama.

 

-The End-

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.