[Part 3 of 3] Sing Me To Sleep


sing me to sleep

Cast:

  • Gong Yoo
  • Kim Go Eun

 

Inspired by Alan Walker – Sing Me to Sleep

Gong Yoo merebahkan Go Eun yang pingsan ke atas ranjang. Gong Yoo menggendong Go Eun sambil mengikuti Yoo In Na yang dengan cepat membuka pintu gerbang serta rumah dan kamar tempat ia meninggalkan keponakan kesayangannya.

 

“Berat sekali dia, bibi.” Gong Yoo mengeluh kepada In Na yang duduk disamping kasur.Gong Yoo memijat pundak kanan dengan tangan kiri untuk menghilangkan rasa pegal setelah merebahkan Go Eun ke atas kasur. “Tunggulah diluar sebentar, Gong Yoo-ah. Aku akan mengganti bajunya.” Gong Yoo mengangguk mengiyakan lalu berjalan meninggalkan kamar Go Eun dan menutup pintu kamar dengan pelan agar tidak membuat Go Eun terbangun.

 

 

Sebelum In Na mengganti pakaian Go Eun, ia mengelus rambut Go Eun dengan lembut. Ia pun beranjak menuju lemari pakaian. Setelah 3 langkah dari ranjang, In Na terhenti setelah mendengar gumaman Go Eun yang membuatnya mulai menitikkan air mata.

 

“Bibi aku merindukanmu…”

 

In Na berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian Go Eun.

 

Setelah In Na membuka pintu lemari, ia memandangi pakaian Go Eun yang belum pernah ia lihat sebeumnya. ‘Go Eun-nie, mianhaeyo. Bibi tidak menjagamu dengan baik.’ Ucapnya dalam hati sambil memilih pakaian ganti Go Eun.

 

Gong Yoo yang menunggu di sofa, tanpa sadar tertidur setelah berkeliling melihat rumah yang hanya di tinggali oleh Go Eun. Dalam mimpinya, ia menerka kehidupan Go Eun yang tumbuh dengan rasa kesepian. Selain itu, sosok In Na yang sering menceritakan tentang Go Eun muncul dalam mimpinya. Sempat terucap sebuah kalimat yang ia lontarkan tanpa sadar dalam mimpinya. “Bagaimana bisa yeoja seperti itu membuat diriku tertarik?”

 

Sentuhan tangan In Na membuat Gong Yoo terbangun dari mimpinya. “Gong Yoo-ah, ayo kita pergi.” Gong Yoo duduk di sofa, lalu perlahan beranjak berdiri, mengikuti In Na yang sudah melangkahkan kaki menuju pintu.

 

“Bibi.” Gong Yoo memanggil In Na pada saat In Na baru saja menutup pintu pagar. “Kenapa kau tidak tinggal lebih lama lagi di Korea? Go Eun-ssi terlihat membutuhkan perhatian dari mu.” Pertanyaan Gong Yoo membuat Yoo In Na menghela nafas panjang. “Kalau saja, ia tidak mengetahui keberadaan bibi, mungkin bibi bisa menemani Go Eun-nie dengan tenang.”

 

Jawaban dari In Na membuat Gong Yoo terdiam sesaat. “Kenapa bibi takut sekali terhadap paman? Aku yakin paman akan mengerti apabila bibi dapat menjelaskan hal ini kepada paman.” ”Pamanmu tidak mengijinkan bibi membawa Go Eun-nie. Bibi sudah sering mengatakan padamu hal ini bukan? Kau masih saja menanyakan hal yang sama.” Gong Yoo mengedarkan pandangannya pada langit malam. “Kalau Go Eun-ssi anak bibi, mungkin aku dapat memiliki teman bermain.” gumam Gong Yoo.

 

“Mianhaeyo, Gong Yoo-ah.”

 

“Yoo In Na-nim, kita sudah sampai,” ucap seorang laki-laki dengan seragam khusus yang berada di belakang kemudi mobil yang mengantarkan bibi dari Go Eun ke bandara. Yeoja bernama Yoo In Na tersebut tersenyum kearah laki-laki tersebut sekilas lalu keluar dari pintu yang telah terbuka oleh seorang petugas bandara.

 

Dengan sigap dan cepat, petugas bandara tersebut mengeluarkan sebuah koper dari bagasi mobil lalu menutup pintu mobil setelah Yoo In Na keluar. “Kamsahamnida.” In Na memberi tip kepada petugas tersebut lalu berlalu pergi.

 

~

 

Go Eun mengeluhkan kecepatan taksi yang ia tumpangi. “Ahjussi, tidak bisakah kau lebih cepat dari ini? Aku sedang terburu-buru.” Taksi yang membawa Go Eun melaju dengan kecepatan tinggi di tol bandara setelah sang supir kesal dengan Go Eun yang tidak berhenti mengeluh selama beberapa menit.

 

Gong Yoo yang berada di taksi lain berusaha mendekati taksi yang di tumpangi oleh Go Eun. Namun setelah taksi tersebut melaju dengan kecepatan tinggi, Gong Yoo kehilangan jejak. “Cheosomianhaeyo, bisa kau ikuti taksi yang itu?” tanya Gong Yoo pada supir taksi sambil menunjuk kearah taksi yang di tumpangi Go Eun. “Baik tuan.” Meskipun tidak secepat taksi yang ditumpangi Go Eun, namun taksi yang ditumpangi Gong Yoo berusaha mengikuti taksi Go Eun dari belakang.

 

“Yoo In Na-ssi, keponakanmu benar-benar…” gumam Gong Yoo sambil menggelengkan kepala.

 

*

 

Yoo In Na sedang menikmati ice coffee yang ia beli dari sebuah kafe di bandara sambil duduk memperhatikan keramaian di depan matanya. Ia melirik jam tangannya sekilas sebelum ia bangkit berdiri dan menarik kopernya menuju gerbang keberangkatan.

 

Baru saja ia melangkahkan kaki sebanyak 3 langkah, handphonenya tiba-tiba saja berdering. Nama Gong Yoo yang terlihat pada layar handphone membuat In Na langsung mengangkat telepon tersebut.

 

“Bibi, maaf. Go Eun-ssi mengalami kecelakaan.”

 

Ekspresi terkejut In Na setelah mendengar pernyataan Gong Yoo mengawali sebuah rasa penyesalan serta rasa sedih dari seorang bibi yang tak bisa menjaga keponakan kesayangannya. Ia berbalik arah menuju pintu masuk gedung bandara sambil berlari menarik koper miliknya, menuju lokasi Gong Yoo dan Go Eun berada.

 

~

 

Taksi yang di tumpangi Go Eun kehilangan kendali saat akan memasuki area bandara karena kecepatan yang terlalu tinggi. Taksi tersebut menabrak palang dan sebuah tiang lampu. Kepala Go Eun terbentur kaca mobil dengan cukup keras dan terjatuh ke bawah sehingga membuat Go Eun kehilangan banyak darah dari kepalanya. Sementara supir yang mengendarai taksi Go Eun yang hendak kabur berhasil di cegat oleh beberapa petugas bandara untuk dimintai keterangan.

 

Gong Yoo langsung berlari ke arah Go Eun yang baru saja di baringkan ke aspal oleh beberapa petugas sambil menunggu mobil ambulans datang. Gong Yoo mendekap Go Eun dalam pelukannya sambil memanggil nama Go Eun berkali-kali. Mengharapkan sebuah keajaiban. Namun Go Eun tidak sadarkan diri.

 

In Na datang tidak lama kemudian. Ia menerobos kerumunan orang yang mengelilingi tempat kejadian perkara sambil meneriakan nama Go Eun. In Na mematung saat melihat keadaan Go Eun yang berada di dekapan Gong Yoo. “Bibi..maafkan aku…” ucap Gong Yoo kepada In Na yang perlahan berjalan mendekat. Ia kemudian berlutut agar dapat melihat wajah Go Eun dengan lebih jelas.

 

Gong Yoo menyerahkan Go Eun dari dekapannya kepada In Na. In Na meletakkan kepala Go Eun pada pahanya. Air mata pun tidak dapat terbendung melihat keponakan kesayangan yang telah ia tinggalkan selama beberapa tahun akan segera pergi meninggalkannya. “Go Eun-nie, mianhaeyo…” gumam In Na pelan. “Mianhaeyo, Go Eun-nie. Bibi tidak menjaga mu dengan baik. Bibi tidak  menemanimu berjalan-jalan, tidak memasakkan makanan enak untukmu, atau..atau…” air mata In Na semakin deras semakin In Na meluapkan pernyataan penyesalannya.

 

“Bibi…”

 

In Na terkejut saat Go Eun bergumam pelan memanggilnya.

 

“Go Eun-nie, bertahanlah. Ambulans…”

“Sarang…”

 

Go Eun tidak menyelesaikan perkataannya kepada In Na. Pernyataan In Na kepada Go Eun terdengar seperti sebuah nyanyian yang akhirnya dapat ia dengar setelah sekian lama. “Nado saranghae, Go Eun-nie.” In Na langsung memeluk erat Go Eun yang telah menghembuskan nafas terakhirnya. Tangan yang memegang kepala Go Eun pun dipenuhi oleh darah yang membasahi seluruh bagian belakang kepala Go Eun.

 

“Go Eun-nie, mianhaeyo….”

 

In Na berkali-kali mengucapkan kalimat itu sambil terus memeluk Go Eun yang tak bernyawa. Gong Yoo yang menyaksikan hal tersebut di depan matanya, hanya bisa terdiam dan tak bisa berekspresi apapun.

 

~

 

Sehari setelah Go Eun dimakamkan, In Na meminta Gong Yoo untuk menemaninya kembali ke rumah untuk membereskan barang-barang Go Eun. In Na berlalu ke dapur untuk membuatkan minuman sementara Gong Yoo masuk ke kamar Go Eun terlebih dahulu untuk melihat barang-barang yang akan ia rapikan.

 

Gong Yoo membuka laci dari meja belajar Go Eun dan mengambil sebuah buku catatan berwarna merah muda. Ia membuka buku tersebut dan membaca sembarang halaman. Namun setelah membaca beberapa kalimat pada halaman yang ia buka, ia merasa terkejut. Karena pada halaman tersebut, tertulis namanya. Padahal Gong Yoo dan Go Eun belum pernah bertemu sebelumnya.

 

Kalimat akhir dari paragraf tersebut membuat Gong Yoo menitikkan air matanya. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Meskipun hanya bertemu sekali namun ternyata mereka memendam perasaan yang sama.

 

In Na masuk kedalam kamar sambil membawa sebuah nampan dengan 2 buah cangkir serta sebuah teko keramik berisi teh. Terheran melihat ekspresi Gong Yoo, In Na langsung mengambil buku catatan yang di pegang Gong Yoo dan membaca isinya.

 

Bibi baru saja pulang menemui calon paman. Paman yang tidak pernah ku temui karena kata bibi, ia tidak menyukaiku. Bibi bercerita tentang betapa mewah dan besar rumah paman, mengenai banyaknya mobil paman, dan mengenai masakan rumah yang menurut bibi lebih lezat dari masakannya sambil menunjukkan foto-foto yang berhasil ia ambil.

 

Diantara foto-foto yang berhasil dia ambil, ada satu foto yang berhasil menarik perhatianku. Foto seorang anak laki-laki yang lebih tua dariku. Kata bibi, namanya Gong Yoo. Ia terihat tampan dengan jas hitamnya. Aku hanya bisa terheran saat melihat seorang anak laki-laki mengenakan pakaian formal untuk sehari-hari. Namun karena ia tampan, aku tidak akan mengomentari apa-apa lagi tentangnya.

 

Bibi bilang kalau aku tak akan bisa bertemu dengan Gong Yoo karena ia tidak pernah keluar dari area rumahnya. Gong Yoo lebih sering keluar dengan calon paman, sehingga kecil kemungkinan bertemu dengan Gong Yoo apabila ia sedang di luar juga. Meskipun hanya bisa memandangnya dari foto yang diambil bibi, aku telah jatuh cinta pada seorang laki-laki yang belum pernah aku temui itu.

 

Aku cinta Gong Yoo. Meskipun bibi mengatakan telah memperlihatkan fotoku kepada Gong Yoo, apakah ia juga merasakan hal yang sama denganku?

 

-The End-

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.