[Part 1] Bridge of the Stars


 

bridge-of-the-stars-1

Cast:

  • Kim Sunggyu
  • Moon Ji Sha (OC)
  • Kim Ji Yeon – Kei Lovelyz
  • Other Infinite Member

Pada suatu masa di suatu wilayah, terdapat sebuah desa yang bernama red dragon village. Di desa tersebut, sang kepala suku memiliki 7 orang putra yang begitu tampan. Masing-masing dari mereka memiliki keahlian yang berbeda-beda. Anak tertua, Sunggyu, memiliki kemampuan memanah dan analisa yang luar biasa; Dong Woo pandai menggunakan pedang dan berenang; Sung Yeol, Woo Hyun dan Hoya telah dilatih untuk menjadi ninja sejak kecil; sementara Myungsoo dan Sung Jong ahli menggunakan pedang juga serta pengetahuan yang luas tentang hal-hal politik, sosial dan budaya.

 

Sunggyu sedang berlatih memanah sambil menunggangi sebuah kuda berwarna coklat.  Satu persatu anak panah melesat dari busurnya tepat menuju lingkaran merah yang merupakan pusat sasaran. Kecepatan anak panah berimbang dengan kecepatan kuda yang Sunggyu tunggangi. Setelah melakukan hal yang sama berulang kali, ia pun memutuskan untuk beristirahat.

 

Kuda tersebut mendekati sebuah pohon besar nan rindang. Sunggyu turun dari kuda tersebut lalu mengelus kepala kuda tersebut. Kuda tersebut terlihat senang saat Sunggyu mengelus kepalanya. Beberapa lama kemudian, Sunggyu duduk di bawah pohon sambil menatap langit berawan dan menikmati suasana yang menyejukkan di sekitarnya.

 

Terdengar sebuah suara langkah kaki kuda lain mendekati tempat Sunggyu berada.  “hyung!” teriak seorang namja yang menunggangi kuda tersebut dari kejauhan. Sunggyu langsung menoleh dan melihat ke arah namja yang memanggilnya. “Ah! Sung Jong-ah~ ada apa?” sapa Sunggyu kepada Sung Jong yang baru saja turun dari kuda yang ia tunggangi. “Aboji mencari mu, hyung. Katanya sesuatu yang penting.” Jawab Sung Jong.

 

Sunggyu menghela nafasnya. “Katakan padanya aku akan menemuinya nanti.” Ucap Sunggyu kemudian. “Tapi aboji memintaku untuk kembali bersama mu, hyung.” Sung Jong berjalan mendekati Sunggyu yang masih terduduk. Raut wajah Sunggyu menjadi kesal seketika. “Apa yang sedang ia lakukan sebelum kau di minta untuk kemari? Duduklah sebentar Sung Jong-ah.” Tanya Sunggyu sambil menepuk rerumputan di sebelahnya, mempersilahkan Sung Jong duduk.

 

Sung Jong duduk di sebelah Sunggyu dan menyandarkan punggungnya kepada batang pohon yang kokoh. “Aku dan Myungsoo hyung menemaninya bercakap-cakap dengan kepala suku dari white swan village. Lalu setelah mereka pergi, aku di minta untuk memanggilmu untuk menemuinya, hyung.” “Pasti soal pernikahan ku dengan Ji yeon-ssi, benar?” tanya Sunggyu memastikan topik pembicaraan kedua kepala suku tersebut. Sung Jong mengangguk perlahan dengan rasa ragu dalam anggukannya. “Bagaimana hyung tahu?” tanya Sung Jong penasaran. “Bukankah hyung belum di beritahu oleh aboji?”

 

“Ji yeon-ssi yang memberitahu ku. Kami tidak sengaja bertemu di hutan pada saat aku sedang berjalan-jalan sambil menunggangi kuda. Ia baru saja selesai memetik buah-buahan di hutan waktu itu.” Jawab Sunggyu menjelaskan. “Bagaimana bisa aku menikahi seseorang yang tidak aku sukai? Bahkan gadis-gadis di desa kita saja tidak ada yang membuat aku tertarik. Bagaimana dengan desa lain?” ucap Sunggyu sambil seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ayah mereka sama sekali tidak tahu kalau Sunggyu sudah mengetahui hal ini lebih dahulu dan bahkan Sunggyu sudah membuat keputusan bahkan sebelum ayahnya bertanya kepadanya.

 

“Kau harus mendengarkan penjelasan aboji dulu, hyung. Meskipun mungkin kau akan benar-benar di jodohkan dengan Ji Yeon-ssi. Tapi kau tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan.” Sung Jong menoleh ke arah Sunggyu dan menepuk pundaknya.

 

Sunggyu menghela nafas sementara Sung Jong bangkit dari tempat dia duduk dan mengulurkan tangannya ke arah Sunggyu. “Ayo hyung kita pulang. Aboji sudah menunggu mu.” Uluran tangan Sung Jong diterima oleh Sunggyu. Sunggyu menggenggam tangan Sung Jong dan langsung berdiri dari tempatnya duduk. Mereka pun sama-sama membersihkan rumput yang menempel dari bagian belakang mereka sambil menertawakan satu sama lain karena banyaknya rumput yang menempel. Sunggyu yang selesai lebih dahulu langsung berlari menuju kudanya yang berada di seberang dan langsung menungganginya. Sung Jong pun menyusul Sunggyu kemudian.

 

Kuda yang Sung Jong tunggangi dan Sunggyu tunggangi berlari dengan cepat melintasi pepohonan rindang di hutan menuju ke desa mereka. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di desa mereka dan langsung sampai ke rumah mereka.

 

Red dragon village adalah sebuah desa termakmur dan yang paling damai diantara desa lainnya. Pertanian yang subur yang mengelilingi sebagian desa, air jernih yang mengalir di antara sungai-sungai dan air terjun, orang-orang desa yang ramah dan saling menjaga satu sama lain. Selain red dragon village, masih ada 2 desa lainnya yang berada tidak jauh letaknya, yaitu white swan village dan blue wave village. Blue wave village berada di dekat laut sehingga maju dibidang perikanan dan maritim sementara white swan village berada di atas gunung dan maju pada bidang tekstil.

 

Sesampainya Sunggyu dan Sung Jong di rumah mereka, Myungsoo keluar dan menyambut kedatangan mereka. “Sunggyu hyung, Sung Jong-ah, aboji menunggu kalian didalam.” Ucap Myungsoo saat berada di dekat mereka yang baru saja menggiring kuda mereka kembali ke tempatnya. “Apa perwakilan dari white swan village masih ada, hyung?” tanya Sung Jong kepada Myungsoo. “Mereka sudah pulang, Sung Jong-ah.” Jawab Myungsoo. “Sunggyu hyung cepat lah masuk.” Sunggyu pun mengangguk. “arraseo, aku ingin berbicara dengan kalian setelah ini.” “Arraseo hyung.” ucap Myungsoo dan Sung Jong di sertai anggukan. Sunggyu pun berlalu dari mereka dan memasuki rumah untuk menemui ayahnya.

 

*

 

Ketika Sunggyu masuk kedalam rumah, ayahnya sedang duduk bersimpuh sambil menyeruput teh hangat yang di sajikan pada sebuah gelas kayu. “Teh hijau sangat baik untuk kesehatan.” Ucap ayahnya tiba-tiba. Ia meletakkan gelas kayunya ke atas sebuah piring kecil berbarengan dengan waktu Sunggyu duduk bersimpuh di hadapan ayahnya. “Teh hijau juga bisa menenangkan pikiran serta jiwa yang lelah. Bukankah begitu Sunggyu-ya?” “Ah iya benar, ayah.” Jawab Sunggyu dengan cepatnya sambil memberi hormat kepada ayahnya.

 

“Aku rasa kau sudah mengetahui tentang rencana ku menikahkan mu dengan Ji yeon-ssi dari Sung Jong-ah. Benar?” tanya ayahnya langsung pada inti pembicaraan. “Tidak. Ji yeon-ssi yang memberitahuku pada saat kami tidak sengaja bertemu di hutan.” Jawab Sunggyu.

 

“Kau adalah anak tertua yang ku miliki serta calon pemimpin desa ini. Kau harus memikirkan masa depan mu kelak. Apa yang akan kau lakukan dan dengan siapa kau akan menikah.” Ucap sang ayah. “White swan village memiliki banyak sekali wanita-wanita cantik, Sunggyu-ah. Sedangkan blue wave village memiliki wanita-wanite yang tangguh dan kuat. Ayah tidak mungkin membiarkan istrimu kelak lebih tangguh darimu.”

 

“Pergilah ke white swan village untuk berjalan-jalan. Temuilah Ji yeon-ssi dan berkelilinglah bersamanya.” Jelas sang ayah sambil meminta Sunggyu pergi menemui Jiyeon. “Bagaimana kalau aku tidak mau pergi ayah? Aku merasa belum saat aku untuk mencari pendamping hidup.”ucap Sunggyu sambil menatap ayahnya.

 

Seorang pengurus rumah memberikan Sunggyu segelas teh yang persis dengan ayahnya dan menaruh didekat Sunggyu. Setelah meletakkan gelas teh tersebut, pengurus rumah itu segera berlalu menuju dapur. Sunggyu hendak meminum teh dari cangkir tersebut pada saat ayahnya mengatakan sesuatu.

 

“Aku harap kau segera menikah, Sunggyu-ah. Ayah sudah tidak sabar untuk memiliki seorang cucu. Apabila ibumu masih hidup, mungkin ia…” “Ia akan membiarkan aku memilih pasanganku sendiri, aboji.” Sela Sunggyu tiba-tiba saja dan membuat ayahnya terdiam seribu bahasa karenanya. “Atau mungkin ia akan mendengarkan ku daripada pendapatmu, Sunggyu-ah.” Ucap sang ayah dengan nada datar.

 

Keheningan melanda mereka yang saling bertatapan satu sama lain. Merasa tak perlu ada yang di bicarakan lagi, Sunggyu bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berbalik menghadap pintu keluar dan berjalan mendekatinya. “Pergi dan temui Jiyeon dengan segera. Aku menunggu kabar darimu.” Ujar sang ayah sebelum Sunggyu benar-benar menjauh darinya. Sunggyu berhenti melangkah dan sedikit menoleh ke belakang, namun tidak mengatakan satu katapun kepada ayahnya. Ia lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu dan pergi meninggalkan ayahnya yang masih duduk diposisinya.

 

Ia menggerakan tangannya dan mengambil gelas yang masih berisi sedikit teh dihadapannya. Lalu meminum teh tersebut dengan sekali teguk dan meletakkan kembali gelas tersebut ke posisinya. Helaan nafas panjang pun dikeluarkannya dari mulutnya yang basah karena teh yang ia minum sebelumnya. “Aku harap ia mengerti apa yang ku maksud.” Ucapnya disertai dengan helaan nafas berikutnya.

 

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s