[Part 6] A Happy Ending


a happy ending

 

Cast :

  • Yang Yoseob
  • Lee HyunAe
  • Lee Jaejin
  • Park Cho-rong

Other Cast :

  • Kwanghee ZE:A
  • Siwan ZE:A
  • Sunhwa Secret
  • Na Eun A Pink
  • Many Hidden Cast

 

“Jaejin-ssi, HyunAe-ssi tidak ada dikamarnya” ucap suster itu sambil berusaha mengatur nafasnya setelah berlari. “APA!” teriak Jaejin keras. Untung saja lorong tersebut sepi sehingga tidak menganggu siapapun. Tanpa mendengar penjelasan suster tersebut lebih lanjut, Jaejin langsung berlari kearah suster itu datang dan menghilang di pertigaan lorong. Berselang beberapa detik, suster itu mengejar Jaejin untuk menjelaskan hal yang belum sempat ia katakan.

 

Jaejin masuk kedalam kamar HyunAe dan melihat kamar dalam keadaan berantakan. Tak lama kemudian, suster yang mengejar Jaejin pun berhasil menyusul Jaejin. “Jaejin-ssi, suster yang lain sedang mencari HyunAe-ssi,” ucap suster itu. “Seharusnya ia tidak bisa pergi jauh, cepat temukan dia” Jaejin pun berbalik hendak keluar dari ruangan tersebut. Namun ia menabrak Na Eun yang datang tiba-tiba. “Jaejin-ssi, HyunAe ada di atap. Tapi ia tidak mau mendengarkan kami untuk turun dari tempat ia berdiri” perkataan Na Eun membuat Jaejin kaget seketika dan langsung berlari menuju atap dengan diikuti oleh Na Eun dan suster lainnya.

 

~

 

Jaejin menaiki lift hingga lantai yang bisa dijangkau oleh lift lalu menaiki tangga darurat dengan cepat. “Bagaimana bisa ia menghilang begitu cepat dengan keadaannya yang seperti itu?” gumam Jaejin sambil berharap agar ia belum terlambat dengan hal buruk yang akan terjadi.

 

Baru saja ia sampai ke lantai paling atas gedung rumah sakit, ia langsung berlari kearah beberapa suster yang tidak berani mendekati HyunAe yang sudah berdiri di atas sebuah tembok yang tidak terlalu tinggi. Apabila ia salah dalam melangkah maka ia akan kehilangan nyawanya.

 

“agashi, cepatlah turun dari sana.” “ijinkan aku mendekatimu, agashi.” “agashi…” teriak beberapa suster itu namun HyunAe terlihat marah. “Kalau kalian berani mendekat, aku akan loncat! Meskipun aku tidak bisa melihat namun aku bisa merasakan sekelilingku!” teriak HyunAe dengan penuh rasa marah yang begitu besar.

 

Na Eun sampai tidak lama kemudian dan berlari mendekat ke arah gerombolan suster dan menerobos dengan sekuat tenaga. “agashi! Ayo kita kembali ke kamar ke sakarang.” Na Eun langsung melangkahkan kakinya sebanyak 2 langkah dan membuat HyunAe yang menyadari langkah kakinya langsung perlahan berjalan mundur. Jaejin pun segera berlari dan menerobos gerombolan suster dan menarik Na Eun ke belakang. “Hentikan Na Eun-ssi!”

 

Mendengar suara Jaejin, HyunAe seketika berusaha maju selangkah. “Jaejin-ssi?” Saat HyunAe akan melangkah lagi. Ia kehilangan keseimbangan karena angin yang bertiup agak kencang berlawanan dengan arah HyunAe melangkah. Jaejin yang menyadari HyunAe yang terdorong oleh angin, berlari kearah tembok yang dipijaki HyunAe dan langsung meraih tangan kanan HyunAe dengan segera.

 

Terdengar suara teriakan seorang yeoja dari arah lobby yang melihat HyunAe yang bergelantung di atas gedung dengan Jaejin yang masih berusaha menggenggam tangan HyunAe. Seketika area sekitar lobby ramai seketika dan melihat proses penyelamatan HyunAe yang perlahan di tarik oleh Jaejin.

 

Setelah dibantu oleh Na Eun dan beberapa suster lainnya, Jaejin berhasil menarik kembali HyunAe dengan selamat. HyunAe tidak sadarkan diri saat dirinya dibaringkan di lantai. Jaejin langsung meminta beberapa suster untuk merapikan kamar HyunAe serta Na Eun untuk menyiapkan beberapa obat-obatan yang akan digunakan. Jaejin mengangkat HyunAe ala bridal style dan langsung membawanya turun menuju kamar.

 

Semua suster yang dimintai tolong oleh Jaejin berjalan dengan cepat mendahului Jaejin untuk menyiapkan semuanya termasuk Na Eun. Na Eun yang sedang mencari botol obat yang dibutuhkan di ruang penyimpanan obat tiba-tiba saja termenung. Seorang suster yang melintas pun menegurnya. “Na Eun-ssi, gwenchanayo?” tanya seorang suster yang melangkah mendekat dan membuka sebuah lemari kaca didekat Na Eun. Na Eun tersenyum dan menunduk hendak permisi dari suster tersebut dan menuju kamar HyunAe sambil membawa sebuah nampan yang berisi 2 botol obat serta sebuah suntikan.

 

Na Eun tiba dikamar HyunAe yang didalamnya terdapat Jaejin dan Hongki yang sedang diskusi di dekat jendela serta 2 orang suster yang sedang mengelap bagian tangan dan kaki HyunAe yang kotor dengan handuk yang dibasahi air hangat. Na Eun meletakkan nampan yang ia bawa ke atas sebuah meja disamping ranjang HyunAe.

 

Jaejin yang menyadari kedatangan Na Eun langsung menghentikan diskusinya dengan Hongki dan berjalan mendekat Na Eun yang sedang memasukkan cairan obat kedalam suntikan untuk dimasukkan kedalam infus.

 

“Biar aku saja, Na Eun-ssi.” Ucap Jaejin sambil meminta suntikan ditangan Na Eun. Na Eun memberikannya ke Jaejin dan melangkah mundur dari posisinya. Ia memperhatikan gerak-gerik Jaejin yang begitu hati-hati. “Na Eun-ssi, bisa ikut denganku sebentar?” panggil Hongki sambil menatap kearah punggung Jaejin lalu berjalan menuju pintu kamar dan pergi meninggalkan kamar HyunAe disusul oleh Na Eun dibelakangnya.

 

Mereka berjalan menuju ruang praktek Hongki tanpa berbicara satu sama lain. Ketika sudah dekat dengan ruang praktek Hongki, Hongki menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Na Eun. Na Eun merasa kaget dan mendadak berhenti selangkah depan Hongki. “Na Eun-ssi, tolong ambilkan berkas yang berisi riwayat kesehatan HyunAe dari ruangan Jaejin-ssi.” Ucap Hongki memberi tugas. Na Eun mengangguk dan segera berjalan pergi, namun Hongki menarik tangan kanan Na Eun.

 

“Ah dan tolong belikan aku sekaleng kopi. Aku kekurangan kafein.” Hongki tersenyum kearah Na Eun. Na Eun membalas senyuman Hongki sambil mengangguk. “Ne, akan aku bawakan Hongki-ssi.” Hongki melepaskan tangan Na Eun dan membiarkan yeoja itu melangkah pergi menyelesaikan tugasnya. Hongki memperhatikan punggung Na Eun yang kini menjauh darinya dan menghela nafas dengan beratnya.

 

I hope you will choose me someday.

 

*

 

Narsha yang mendapat telepon dari rumah sakit kalau anaknya hampir mencoba bunuh diri langsung bergegas menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, ia langsung mempercepat langkahnya menuju kamar HyunAe. Saat Narsha masuk ke kamar HyunAe, HyunAe baru saja masih tertidur di atas ranjang.

 

Jaejin masih berada di kamar HyunAe dan duduk didekat ranjang HyunAe langsung bangkit berdiri menghadap Narsha. Setelah menyapa satu sama lain, Narsha melangkah mendekati HyunAe yang terbaring dengan nyenyaknya. Narsha membelai rambut panjang HyunAe perlahan. “HyunAe-ya, eomma ada disini. Jangan tinggalkan eomma dulu. Eomma akan menjagamu, HyunAe-ya.” Ucapnya sambil terus membelai rambut HyunAe.

 

Jaejin yang merasa mengganggu Narsha pun berdeham. “Cheosohamnida, saya permisi.” Jaejin melangkah pergi meninggalkan pasangan ibu dan anak tersebut. “Kamsahamnida, Jaejin-ssi.” Ucap Narsha seraya memberi hormat kearah Jaejin. Jaejin membalasnya dan langsung meninggalkan kamar HyunAe.

 

*

 

Yoseob sedang berada dikamarnya. Ia sedang merapikan lemari bukunya yang begitu penuh akan buku. Lemari buku tersebut terdapat pada salah satu bagian lemari baju Yoseob. Jiyul pun turut membantu Yoseob merapikan rak bukunya dengan mengeluarkan dan memasukkan buku kembali ke dalam rak sedangkan Yoseob yang mengelap bukunya.

 

“Aku rasa aku harus membaca ulang semua buku ini, Jiyul-ah.” Ucap Yoseob seraya memberikan buku yang baru saja ia lap kepada Jiyul. “Kau memiliki banyak waktu untuk itu sekarang, oppa. Beristirahatlah dan gunakanlah waktu ini dengan baik, oppa.” Balas HyunAe dengan senyuman sambil menerima buku dari Yoseob dan menukarkannya dengan buku lainnya.

 

Buku berikutnya yang diberikan Jiyul ternyata adalah sebuah album foto dengan sampul coklat bernuansa vintage dengan ukiran bunga dan sepasang burung yang saling berdekatan. Yoseob yang penasaran langsung membuka album foto tersebut. Jiyul yang menyadari Yosoeb sedang asik dengan sebuah buku ditangannya meletakkan buku berikutnya di dekat Yoseob dan menumpuk beberapa buku lainnya kemudian.

 

Album foto itu berisi foto teman-teman Yoseob dan keluarga Yoseob. Beberapa menit setelah ia membuka album tersebut, secara tanpa sadar ada beberapa foto keluar dari bagian belakang album tersebut. Dengan segera Yoseob langsung merapikan foto-foto tersebut. Jiyul yang menyadarinya membantu Yoseob menyusun foto-foto tersebut dan menumpuknya. “Aku bantu rapikan oppa.” Ucap Jiyul sambil mencari beberapa foto yang terselip di antara tumpukan buku.

 

Terdapat 3 buah foto ditangan Yoseob. Pada tangan kirinya terdapat foto dirinya, Jiyul beserta orang tua mereka yang sudah meninggal dengan pemandangan gunung Sorak, pada tangan kanannya terdapat foto dirinya dengan Sunhwa, Kwanghee dan Siwan dengan seragam staff lengkap di dalam sebuah cafe, dan foto yang berada di tengah kedua foto tersebut adalah foto HyunAe yang sedang membawa nampan berisi secangkir kopi dengan mengenakan seragam staff lengkap.

 

Yoseob yang berusaha mengenali orang yang terdapat dalam semua foto tersebut selain Jiyul, tiba-tiba merasa pusing seketika. Jiyul yang kebetulan saja menoleh kearah Yoseob langsung menghentikan aktivitasnya.

 

“Oppa, apa kau mau berbaring diatas ranjang? Biar buku-buku ini akan kurapikan,” Jiyul mengambil buku foto dari atas paha Yoseob. “Tunggu dulu, Ji…Ah!” Kepala Yoseob makin terasa sakit saat berusaha meraih album yang sudah berpindah tangan. “Oppa, gwenchanayo?” Ia meletakkan album foto yang ia tutup itu dengan sembarang. Ia segera membantu Yoseob untuk berdiri dan pindah ke ranjang dengan perlahan.

 

“Oppa, aku ambilkan segelas air ya.” “Jiyul-ah.” Yosoeb menarik tangan Jiyul yang berbalik menuju pintu kamar Yoseob. “Tolong ambilkan album foto itu, Jiyul-ah.” Jiyul yang mengerti dengan maksud Yoseob, langsung mengambil album foto yang tergeletak di lantai dan memberikannya kepada Yoseob. “Apabila kau masih belum siap untuk mengingat semuanya sekaligus, lakukan saja secara perlahan, oppa.” Ucap Jiyul sambil menyerahkan album foto ditangannya kepada Yoseob. “Aku ambil segelas air dulu, sebentar.”

 

Jiyul meninggalkan Yoseob yang memegang album foto miliknya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman untuk Yoseob. Yoseob bersandar pada sandaran ranjangnya dan membuka album foto secara perlahan. Ia memperhatikan satu per satu foto yang di lihat. Saat ia berusaha mengingat orang tuanya, kepalanya mulai terasa sakit. Namun ia masih lanjut membalikkan halaman pada album tersebut. Semakin lembaran pada album terebut dibaliknya, rasa sakit pada kepalanya semakin bertambah.

 

Jiyul baru saja kembali dengan segelas air di tangannya dan berjalan menghampiri Yoseob. Melihat Yoseob yang jatuh pingsan diatas ranjang membuat Jiyul panik seketika. Ia meletakkan gelas yang ia bawa di sebuah meja tak jauh dengan posisinya ia berdiri dan bergegas mendekati Yoseob.

 

“Oppa! Oppa! Sadarlah oppa!”

 

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s