Kiss Kiss Kiss [Minho – SAD VERSION]


FF song :
SHINee – Haru, SHINee – Kiss Kiss Kiss, Rainbow – Sweet Dream, Jonghyun (SHINee) – So Goodbye, Ryeowook ft Donghae Super Junior – Just Like It Now

Cast :

  • Choi Minho
  • Lee HyunAe
  • Lee JinKi
  • Choi MinHye


Aku masih berada di lapangan basket indoor berlatih bersama dengan ke 3 temanku lainnya. Kami bermain 2 lawan 2. Aku dengan Taemin dan Jonghyun dengan Key. Sudah hampir 2 jam mereka bermain.

“kita istirahat dulu” teriak Jonghyun tiba-tiba. “baiklah” akupun pun langsung jatuh terduduk di lantai sementara Key dan Taemin menumpukan tangan mereka pada lutut mereka sambil mengatur nafas mereka. Jonghyun pun menuju kursi dan mengambil beberapa botol minum disana lalu memberikannya kepada masing-masing dari kami. “kamsahamnida hyung” ujar aku serta Key dan Taemin berbarengan. Lalu kami pun minum sambil mengatur nafas kami yang terengah-engah. Key menoleh melihat kearah jam dinding yang dipasang dekat bangku penonton. “sudah sore lebih baik kita balik sekarang” sahut Key setelahnya. “tapi kan baru sebentar” ujar ku. “Ya! Kau tak merasa capek apa? Kalau yeoja chingumu tau, ia bisa menceramahi mu habis-habisan” balas Jonghyun. “ne hyung, HyunAe bisa menceramahimu” Taemin menambahkan. “ara…ara…” aku pun langsung bangkit berdiri dan pergi mengambil tas olahragaku diikuti yang lainnya.

“bagaimana keadaannya? Apakah sudah keluar dari rumah sakit?” Tanya Key. “sepertinya ia sudah pulang kemarin, hyung” jawabku. “hyung sudah mengunjunginya?” Tanya Taemin. “belum aku belum sampet mengunjunginya, Taemin-ah” jawabku sambil mengangkat tas olahraga. “aku balik duluan” tambahku sambil berteriak. “Ya! Jangan lupa mengunjunginya, Minho-ya” teriak Jonghyun. “ne hyung” jawabku sambil berteriak balik.

*

Aku dan HyunAe sudah berpacaran kira-kira selama hampir setahun. Bahkan kami pun belum melakukan first kiss sama sekali! Hubungan macam apa ini. Ia masuk rumah sakit dan harus tinggal cukup lama disana. Meskipun begitu ia tak mau memberitaukan penyakitnya padaku, begitu juga dengan Jinki hyung dan Minhye noona. Memangnya kenapa aku tak boleh tau? Aku ini kan namjanya!

~

Aku memutuskan untuk mengunjunginya keesokan harinya di rumahnya. Aku telah menghubungi Jinki hyung sebelumnya dan katanya HyunAe sendirian dirumah. Aku pun langsung mengunjunginya, mumpung hari ini tak ada jadwal kuliah.

Aku sampai didekat rumahnya, bisa ku lihat wajahnya murung karena bosan dirumah, aku pun berjalan mendekati pintu depan rumahnya dan lalu memanggilnya yang sedang di dekat jendela. “chagi~” ia pun mengarahkan pandangannya padaku. “chagi~buka pintu dong, biarkan aku melihatmu lebih dekat” goda ku padanya. Ia pun tertawa kecil mendengarku seperti itu. “ne nae namja” ucapnya sambil menghilang dari jendela kamarnya dan membukakan pintu untukku.

~

Kami berdua berada diruang tamu. Terdiam tanpa ada yang saling berbicara. Ku lihat ia terdiam, membuatku sedikit bingung. “chagiya, kau kenapa bengong?” ujarku dan membuatnya sadar dari lamunannya. “ani gwenchana, oppa” jawabnya sambil seraya tersenyum padaku. “kau terlalu merindukanku sih, chagi” godanku jahil. Ia tertawa kecil mendengar perkataanku. Aku pun memeluk dan mencium keningnya pelan. “saranghae chagiya” bisikku pelan. Namun tak kudengar jawaban darinya, ia melamun lagi.

“chagi kau bengong lagi” ujarku. “huh? Mianhaeyo nae prince” jawabnya. “saranghae nae prince” “nado saranghae nae princess”

“oh iya aku mau liburan selama 1 minggu di Nami island, kau mau ikut?” tanyaku. “kapan kau akan berangkat, oppa?” tanyanya balik. “mungkin minggu depan, bagaimana?” “mungkin aku harus bertanya ke onnie dan oppaku dulu” jawabnya. “arasseo, hubungi aku nanti, ne?” “ne” jawabnya sambil tersenyum padaku.

*

Sudah 4 hari aku menunggu teleponnya mengenai liburan ke Pulau Nami, namun ia masih tak juga menghubungiku. Apa ia tak diijinkan pergi ya?

Aku masih mengerjakan tugas kuliah ku malam itu ketika hp ku tiba-tiba berdering. “yeoboseyo?” “annyeong haseyo oppa” sahut HyunAe yang ternyata menelponku. “ah~ chagiya, bagaimana?” tanyaku penasaran. “boleh oppa” jawabnya senang. Akhirnya aku punya waktu bersamanya juga. Aku pun berbicara dengan nya ditelepon hingga larut lalu melanjutkan kembali mengerjakan tugas kuliahku hingga pagi menjelang.

~

Sesuai yang sudah direncanakan, aku dan HyunAe pergi berlibur ke Pulau Nami, kesibukkanku sebagai seorang mahasiswa membuat kami jarang bertemu, oleh karena itu pada liburan kali ini, aku ingin menghabiskan waktuku dengannya.

Jinki oppa, MinHye onnie, dan kedua anaknya mengantar HyunAe ke bandara, ku dengar mereka sekeluarga akan pergi berlibur ke Pulau Jeju. Aku berbincang-bincang dengan Jinki hyung sementara HyunAe dengan Minhye noona, sementara MinKi dan JinHye bermain didekat eommanya.

“tolong jaga HyunAe, Minho-ya. Mungkin ini adalah liburan terakhir kalian bersama” kata Jinki kepadaku dan membuatku shock mendadak. “apa maksud hyung berkata seperti itu padaku?” tanyaku terheran-heran. “sebenarnya, HyunAe mengidap kanker stadium 4 dan waktunya sudah tak lama lagi, Minho-ya” jawabnya dengan nada sedih. “kenapa tak memberitauku tentang hal sepenting ini?” tanyaku. “awalnya aku dan noonamu itu ingin memberitaumu, tapi HyunAe melarang semua orang untuk memberitau hal ini kepadamu, karena pastinya ini berat bagimu” jelas Jinki padaku. “tapi…kenapa…” ucapku lirih. “ia tak ingin kau terlalu mengkhawatirkannya, ia bilang tak ingin membuatmu tambah pusing selain tugas kuliah mu itu” kata Jinki kepadaku. “sudahlah, kau bersikaplah seperti biasa, Minho-ya. Jangan sampai ia tau kalau kau telah mengetahui tentang hal ini” “arasseo”

Aku pun berjalan mendekati HyunAe dan memeluknya dari belakang “HyunAe-nie kajja” , bisa kurasakan pipinya panas saat ini, ia pasti malu.

*

Kami pun berangkat menuju pulau Nami. Entah kenapa HyunAe lebih banyak diam, sepertinya ada sesuatu yang menganggu pikirannya saat ini.

“oppa” panggilnya secara tiba-tiba. “ne nae princess, waeyo?” Tanyaku sambil menatapnya lekat-lekat. Namun ia malah bengong kembali. “bagaimana caranya aku menghilangkan penyakit bengongmu, princess?” tanyaku padanya. Ia pun memukul lengan atasku pelan. “aku tidak bengong!” “jinjjayo? Kiss me then” ucapku padanya sambil menaruh jari telunjukku menunjuk kearah bibirku. “andwe! Aku belum siap!” tolaknya tegas. Ku gembungkan saja pipiku, ia pun mencubit pipiku pelan. “kau mau mengalahkan pipinya Key oppa ya?” tanyaku padanya. Aku hanya tertawa kecil membalasnya.

~

Setelah beberapa jam perjalanan, kami akhirnya sampai di Pulau Nami. Saat kami dalam perjalanan menuju hotel dengan mobil. Udara yang dingin pada saat itu membuat nya tak berhenti untuk menggosokkan tangannya. Aku pun langsung menggenggam kedua tangannya dengan keduatanganku yang hangat. Aku pun tersenyum padanya saat ia melihat kearahku. “mendekatlah, aku akan menghangatkan mu, chagi” ucapnya padaku. Ia pun mendekat dan langsung kupeluk ia dari belakang. “hangatkan?” tanyaku padanya. Ia hanya mengangguk pelan menjawab.

Aku telah memesan kamar sebelumnya jadi tak perlu repot lagi. Aku membantunya membawakan kopernya menuju kamar. “mian chagi, berat ya?” tanyanya pada saat aku membawa kopernya. “ani gwenchana chagi, tapi nanti kau harus membayarku” ujarku. “membayarmu?” “kiss” jawabku sambil menunjuk kearah bibirku. “nanti ya chagi” ujarnya. “jinjja!?” aku shock mendengarnya menjawab nanti. “aish…bicarakan nanti saja!” omelnya. “ne chagi, jangan marah donk” ujarku menenangkannya. “ara…ara”

Buk

Suara koper saat membentur lantai kamar kami. Ia pun langsung berlari menuju kearah jendela yang memberikan pemandangan salju pada saat itu. “kau suka chagi?” tanyaku sambil memeluknya dari belakang. “ne, yeppoyo” jawabnya senang. “tapi tak bisa mengalahkanmu, chagi” godaku. Namun ia berbalik dan memukul dadaku pelan. “kau genit!” ujarnya.  Aku hanya tertawa mendengarnya berkata seperti itu. Bagaimana bisa aku merelakan tawa yang indah ini menghilang dari hadapanku?

“kita jalan-jalan yuk, chagi” ajakku pada saat HyunAe menonton tv dikamar. “mau kemana chagi?” tanyanya. “kemana saja asalkan bersamamu” jawabku hingga membuatnya tersipu malu. “kajja!” akupun menarik tangannya dan kami pun hendak pergi jalan-jalan ketika ia tiba-tiba menarik tangannya kembali.

“oppa! Aku lupa mematikan tv!”

*

Kami pergi menuju Metasequoia path, tempat yang pernah digunakan untuk syuting ‘Winter Sonata’ salah satu drama favoritnya. Aku hanya mengikutinya dari belakang selagi ia berjalan didepanku, namun masih menikmati suasana disana. “oppa, kita naik itu yuk” katanya sambil menunjuk kesebuah tempat penyewaan sepeda yang tak jauh dari tempat kami saat ini. “sepeda? Kau mau naik sepeda?” tanyaku padanya. Ia pun mengangguk pelan. “kau tunggu disini ya” aku pun pergi ketempat penyewaan sepeda.

“kajja” ujarku saat kembali dengan sebuah sepeda dengan tempat duduk kecil dibelakang untuk boncengan. “dengan satu sepeda?” tanyanya bingung. “aku akan memboncengmu, chagi” jawabku. “ah” “silakan duduk nae princess” ujarku padanya. Ia pun duduk pada kursi yang terdapat dibelakang. “siap, chagi?” tanyaku. Ku merasakan ia masih membenarkan posisi dudukku pada saat itu. “sudah, oppa” jawabnya tak lama kemudian. “pegangan yang kuat ya” aku pun mulai menggoes sepeda dengan perlahan. Ia pun memeluk pinggangku dari belakang karena takut jatuh. Ku rasakan kepalanya bersandar di punggungku. Kurasakan hangat tubuhnya saat itu. Aku masih tak percaya kalau ia akan segera meninggalkanku begitu cepat. Secara sembunyi-sembunyi, aku menitikkan airmataku ketika menggoes sepeda yang tengah kami kendarai. Andai dapat ku kembali ke masa lalu, aku ingin menghabiskan waktu dengannya lebih banyak lagi.

Setelah 1 jam kami mengitari pulau dengan sepeda. Kami pun kembali ke Metasequoia path untuk mengembalikan sepeda dan berjalan-jalan sebentar disekitar sana. Hari yang semakin malam membuat hari semakin dingin. Ku lihat ia memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan sepertinya ia lupa membawa jaketnya tadi. Akupun langsung memberi jaketku padanya dengan memakaikannya di pundaknya serta memeluknya dari belakang. “oppa” “masih dinginkah?” tanyanya padaku. “ani, tapi bagaimana dengan oppa?” tanyaku balik. “kita kembali ke hotel sekarang ya” ia pun mengangguk dan kami pun memutuskan kembali ke hotel.

*

Ku helakan nafasku setelah selesai mandi. Aku mengenakan tuxedo putih yang membuatku terlihat seperti pangeran hari itu. Melihat pantulan ku di cermin, membuatku berpikir, apakah malam ini merupakan malam terakhir kami bersama? Kenapa kau berpikir seperti ini Minho-ya!? Ia masih berada disini hingga saat ini jangan berpikir yang aneh-aneh!

Aku pun keluar dari kamar mandi dan langsung menuju kearahnya. Ku lihat ia hanya diam terpaku sambil melihat kearahku. “kenapa kau melihatku seperti itu, chagi? Apa ada sesuatu yang kurang pantas bagimu?” tanyaku sambil melihat tuxedo yang ku kenakan. “a…ani…gwen…chanayo” jawabnya gugup. “kau tak apa chagi?” tanyaku saat ku rasakan hal yang aneh darinya. “ne, oppa”

“maukah kau makan malamku, tuan putri?” tanyaku sambil mengarahkan tanganku padanya. Ia menaruh tangannya diatas dan mengangguk pelan. “kajja, princess. Hidangan telah menanti” Ia pun melingkarkan tangannya ditanganku lalu kami pun pergi makan malam bersama.

*

Kami dinner dengan suasana outdoor yang romantis. Ditemani indahnya malam yang bertabur bintanglah, kami menghabiskan waktu makan malam kami. Selama makan kami tak saling berbicara. Aku menyadarinya yang sesekali melirik ke arahku, aku hanya tersenyum membalasnya. Benar-benar lucu.

Tak lama kemudian, kami pun selesai makan. Karena suasana yang sepi aku memberanikan diri bangkit dari tempatku dan menghampirinya. “do you want to dance with me, my princess?” ucapku padanya. Aku pun meraih tangannya dan kami pun bangkit untuk berdansa.

Dengan alunan biola dan organ yang berada di restaurant outdoor itulah kami berdansa. Meskipun baru pertama kalinya bagi kami, kami berusaha untuk tetap bersikap biasa. Mungkin ini akan menjadi memori yang tak akan pernah terlupakan bagi nya dan juga untukku.

Ia berada dipelukanku sambil menyandarkan kepalanya didadaku. Aku belai rambutnya pelan dengan penuh kasih sayang. ‘aku tak tau harus bagaimana bila tanpamu, my princess’ bisikku pada nya. Aku menahan sedih ku saat membisikkannya itu. Bagaimana aku bisa membuatnya tinggal disisiku untuk selamanya, bila sebentar lagi ia akan pergi meninggalkanku.

‘aku belum siap kehilanganmu, HyunAe-ya’

Entah kenapa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. HyunAe yang mendengarnya sontak terkejut. Kami pun saling menatap, dari tatapannya, ia sepertinya kaget dengan apa yang kubisikkan barusan. “oppa, apa kau…” aku mengangguk pelan. Ia terlihat marah melihat anggukanku dan langsung mendorongku kebelakang dan lari meninggalkan restaurant menuju kamar.

“HyunAe-ya!”

*

Aku mengejarnya dari belakang sambil memanggil-manggilnya namun ia masih terus berlari. Aku melihatnya menutup pintu kamar namun kutahan dan kudorong pintunya. Dengan cepat ku peluk tubuhnya yang terasa dingin saat itu. Aku merasakan ia berontak dalam pelukan ku. Semakin ia berontak, semakin erat aku memeluknya pada saat itu.

“lepaskan aku oppa” ucapnya sambil memukul-mukul dadaku pelan. Aku hanya terdiam. Sakit. Itu yang kurasakan saat ini karenanya. “oppa!” teriaknya lagi, aku masih terdiam. Setiap suaranya dan tangisnya benar-benar membuatku sakit saat ini. “oppa lepas…” “andwe!” teriakku tiba-tiba dan membuat nya terdiam seketika.

“bagaimana bisa kau tak memberitauku hal sepenting itu, HyunAe-ya? Apa kau tak percaya lagi kepadaku?”

Airmatanya mengalir makin deras. “JAWAB AKU!” “mian oppa, aku hanya tak ingin kau terluka” jawabnya pelan. Aku pun melepas pelukanku dan beralih memegang tangannya. “tatap mataku HyunAe-ya” kulihat ia menutup matanya dan tak mau melihatku saat ini. Aku tau ia merasa sangat bersalah telah merahasiakan ini cukup lama dariku.

“buka matamu HyunAe-nie” kali ini ku usahakan membuka mataku sedikit dan menoleh kearahnya. Terlihat dari tatapan matanya yang polos kalau ia begitu tulus hingga saat ini. Ku buka mataku lebar-lebar menatap wajahnya, airmataku pun makin tak terhindarkan lagi saat itu.

“oppa”

Tiba-tiba saja tubuhnya melemah dan ia pun jatuh dalam tangkapanku. “HyunAe-ya…HyunAe-ya” aku mengguncang-guncangkan tubuhnya, Untung saja ia masih bernapas saat itu juga. Aku langsung memberitau pihak hotel untuk menghubungi ambulans, lalu aku langsung menuju rumah sakit dengan ambulans tak lama kemudian.

Sepanjang jalan, aku terus memegangi tangannya. Mengapa tiba-tiba bisa jadi seperti ini? Mengapa ia harus pergi secepat ini? Kenapa Kau harus membawanya secepat ini? Aku masih belum sanggup kehilangannya.

*

Sesampainya dirumah sakit, ia langsung dibawa untuk pemeriksaan sementara aku hanya bisa menunggu didepan. Aku langsung menghubungi Jinki hyung dan MinHye noona akan hal ini, dan tentu saja mereka sangat terkejut mendengar kabar dariku. Mereka mengatakan bahwa mereka akan langsung kesana dari Pulau Jeju segera.

Selama menunggu diluar ruangan, seluruh tubuhku entah mengapa terasa sakit. Apa akan terjadi sesuatu dengannya? Pikiran ku tak enak setiap kali melihat kearah pintu itu. Secara tak sadar, air mataku mulai mengalir di kedua pipiku. Aku menutup kedua mataku dengan kedua tanganku dan menghapusnya perlahan.

*

Berselang beberapa waktu, pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter dan 2 suster mendorong ranjang yang HyunAe tempati. Ia akan dipindahkan ke ruangan biasa untuk untuk selanjutnya. Dokter pun menghampiriku dan menjelaskan penyakit HyunAe kepadaku. Ternyata waktunya untuk hidup sudah bisa dihitung dengan jari. Setelah dokter pergi berlalu, aku berjalan menuju kamarnya dengan lemas. Bagaimana mungkin aku baru mengetahui semua ini, padahal waktunya tinggal sebentar lagi?

Saat aku berada didekat pintu kamarnya, Jinki hyung dan Minhye noona memanggilku dan berjalan menghampiriku. “Minho-ya…Minho-ya…bagaimana dengan keadaan HyunAe-nie?” Tanya Jinki padaku. Aku hanya bisa menghela napas saat menjelaskan kondisi HyunAe saat ini. Minhye noona yang mendengarnya langsung jatuh terduduk. “Minhye-ya” Jinki langsung membantu Minhye berdiri dan langsung memeluknya dari belakang. Kenapa mereka malah romantisan disini? ==’

~dalam kamar~

HyunAe masih terlihat tak sadarkan diri. Suasana kamar begitu hening, bahkan tak ada gumaman atau suara yang terdengar pada saat itu. Semua pasang mata tertuju pada HyunAe yang masih tertidur pulas. Aku mendekati HyunAe, melihatnya seperti ini membuatku sedih. “HyunAe-ya” panggilku, air mataku kembali turun perlahan. “HyunAe-ya cepatlah sadar. Aku masih membutuhkanmu. Jangan tinggalkan aku, chagiya”

“Minho-ya, jangan seperti ini, saengie juga bisa sedih melihatmu seperti ini” ujar Onew hyung sambil menepuk pundakku. “Kau kembalilah kehotel, Minho-ya. Beristirahatlah. Biar aku dan Onew-ssi yang menjaganya. Kau pasti lelah setelah seharian menemaninya” sahut Minhye noona. “kalian saja yang kembali ke hotel, noona, hyung. Kalian jauh-jau dari Pulau Jeju kemari pasti lelah. Kembalilah lebih dulu. Beristirahatlah lebih awal, biar aku saja yang menemaninya disini” ucapku kepada mereka berdua. Mereka jauh-jauh datang langsung dari Jeju kemari demi HyunAe pasti melelahkan.

“Minho-ya~” ucap Minhye noona lemah. “sudahlah yeobo. Kita kembali saja dulu ke hotel” Onew menepuk pundaknya. “hajiman…” Onew menarik Minhye noona dan mengajaknya untuk pergi.

Klek

Minhye dan Jinki pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Mereka pasti lelah dalam perjalanan dari Pulau Jeju kemari. Aku melihat kearah HyunAe dan memegang tangannya pelan. “Jangan khawatir chagiya, aku akan terus berada disampingmu hingga kau sadar” aku mencium tangannya pelan lalu membenarkan rambutnya yang terlihat berantakan sedikit. Aku menjaganya hingga tanpa sadar aku terlelap karena lelah.

~

Terang. Itu lah yang kulihat dari tempat ini. Dimana ini? Sepertinya aku tengah bermimpi saat ini. Kudengar langkah kaki seseorang tepat didepanku. Ku layangkan pandangan ku kedepan dan kulihat seorang yeoja tengah berjalan. Menggunakan gaun terusan putih dan sepatu flat putih berjalan tanpa melihat kebelakang menuju kedalam cahaya yang semakin terang. Aku memanggil yeoja itu dan menanyakannya mau kemana. Ia hanya berbalik sambil melihat kearahku dan hanya mengucapkan mianhae lalu kembali berjalan. Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas saat itu karena terlalu silau. Aku bertanya padanya kenapa mengatakan mianhae kepadaku namun ia tak menjawabku.

*

Aku merasakan seseorang membelai rambutku dan itu membuatku terbangun seketika. “mianhamnida oppa” ucapnya pelan. “aniyo, chagiya. Gwenchanayo” ucapku sambil mengucek mata. “oppa, aku mau pulang” “tidak boleh keadaanmu masih lemah” omelku. “aku ingin menghabiskan sisa waktu dengan mu oppa, aku tak mau dirumah sakit terus” ucapnya. “jangan berkata seperti itu, chagiya. Kau tak akan kemana-mana” ucap ku meyakinkannya. Entah mengapa perasaanku menjadi tak enak mendengarnya berkata seperti itu dan bila ditambahkan dengan mimpi anehku semalam.

“oppa” panggilnya pelan. Akupun menoleh kearahnya. Di gerakkan tangannya dan membuatku mendekat kearah wajahnya. Ia sentuh pipiku pelan. Didekatkan wajahnya ke wajahku.

Chu~

Ia menciumku pelan. Namun…

Deg!

Saranghae oppa

Ia jatuh keatas ranjang, bisa kudengar suara ranjang yang bergetar, ia jatuh lemas. Kulihat wajahnya langsung pucat seketika. Aku langsung panik seketika dan langsung keluar memanggil dokter dan suster pada saat itu.

*

Aku duduk di kursi diluar kamar menunggu Minhye noona dan Jinki hyung datang beserta kedua anaknya. HyunAe masih diperiksa dokter dan suster didalam kamar.

“Minho-ya” panggil Jinki dan Minhye berbarengan. MinKi dan JinHye juga datang. “noona/onnie mana?” Tanya mereka. “bagaimana keadaan HyunAe, Minho-ya?” Tanya Jinki dan Minhye berbarengan. Aku hanya bisa diam. Aku tak bisa bilang seenaknya saja, aku tau bahwa ia sudah pergi setelah ia menciumku, tapi aku tak boleh menyimpulkan terlalu cepat.

Dokter yang memeriksa HyunAe pun keluar. Terdengar helaan napas dari sang dokter. “jeongmal mianhamnida, kami telah berusaha semampu kami”

Seperti terkena sambaran petir di tengah badai. Begitulah suasana hatiku saat ini. Kacau. Saat kulihat kearah Jinki hyung. Sepertinya ia sedikit kesulitan menenangkan keluarganya sendiri. Aku memeluk kedua anaknya, karena tak mungkin kan ia memeluk 3 orang sekaligus.

Dokter mengijinkan kami untuk masuk kedalam kamar HyunAe dirawat pada saat itu.  Seorang suster terlihat sedang merapikan alat yang terdapat disana. Minhye noona terlihat lemas sehingga Jinki hyung harus memapahnya. MinKi dan JinHye pun memberanikan diri untuk mendekati HyunAe dan melihat keadaannya. Aku hanya bisa menangis dalam hati. Aku tak ingin menunjukkan air mataku didepan mereka tentunya.

~

Hari menjelang sore, Jinki hyung mengajak keluarganya kembali ke hotel untuk beristirahat. Matanya bisa dipastikan bengkak tentunya. Kini hanya tinggal aku dan HyunAe yang masih terbaring diatas ranjang. Aku membelai rambutnya yang halus. Melihatnya membuat ku tak dapat menahan air mataku. Karena hanya terdapat aku disana, membuatku lebih leluasa menangis tentunya.

Chagiya…
Masih ingatkah saat kita pertama kali bertemu? Benar-benar konyol. Kau harus terkena lemparan bola basket ku dan aku harus menemanimu seharian di uks universitas hingga kau sadar. Tapi karena hal itulah, kita dapat saling bertemu dan berkenalan, hingga mengenal sesuatu yang bernama cinta diantara kita.
Saat ku dengar kau masuk rumah sakit, membuatku tak bisa berhenti memikirkanmu. Ku Tanya semua orang disekitarmu mengenai penyakitmu, namun tak ada satupun yang menjawab pertanyaanku. Hingga pada akhirnya oppamu lah yang memberitauku, tepat sebelum kita berangkat ke Pulau Nami. Kenapa kau tak mau memberitau ku tentang penyakitmu? Aku tau kau tak ingin membuatku khawatir karena mu, tapi kau harus ingat. Aku akan selalu berada disampingmu, menjagamu selalu dan selalu mencintaimu setiap saat. Meskipun sekarang semuanya telah berubah, hidup tetap harus kujalani, meskipun tanpamu. Aku tak akan pernah melupakanmu.

Lee HyunAe

-Fin-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s